Oleh : Sopana*)

Penetapan besarnya harga minyak merupakan hal yang sangat penting mengingat berapa besar harga minyak berpengaruh terhadap pembagian produksi (lifting) antara kontraktor dan pemerintah. Selama ini, harga yang digunakan di sektor hulu migas atau harga minyak mentah Indonesia didasarkan pada Indonesian Crude Oil Price (ICP). ICP merupakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia di pasar internasional, ditetapkan setiap bulan dan semesteran, dan dipakai sebagai indikator perhitungan bagi hasil minyak mentah (DJA-Kemenkeu, 2009).

Perhitungan ICP saat ini mengikuti formula tertentu yang merupakan harga rata-rata dari sumber yang kompeten dalam perdagangan minyak internasional, antara lain: Platts, RIM dan APPI. RIM merupakan badan indenpenden berpusat di Tokyo dan Singapura yang menyediakan data harga minyak untuk pasar Asia Pasific dan Timur Tengah.

MOPS (Mean of Platts Singapore) adalah penilaian produk untuk trading minyak di kawasan Asia yang dibuat oleh Platts, anak perusahaan McGraw Hill. Istilah MOPS selama ini dikenal di Indonesia dengan Mid Oil Platts Singapore yang dijadikan patokan harga BBM di Indonesia berdasarkan Perpres No. 55 Tahun 2005. Platt’s adalah penyedia jasa informasi energi yang berpusat di Singapura. Menurut Lubiantara (2007), jasa informasi dari Platts tidak terbatas pada minyak, namun juga gas alam, kelistrikan, petrokimia, batubara dan tenaga nuklir. APPI (Asian Petroleum Price Index) menggunakan sistem panel (panel pricing) dimana penentuan harga minyak dilakukan oleh partisipan pelaku industri (seperti: trader, refiner dan producer). Menurut Lubiantara (2007), APPI dikeluarkan oleh SeaPac Services di Hongkong karena APPI dianggap sebagai mekanisme penentuan harga yang standar untuk wilayah Asia Timur.

Penilaian harga minyak memiliki beberapa manfaat bagi perusahaan minyak maupun investor di bursa keuangan. Manfaat tersebut untuk: long term contracts, spot sales, perencanaan ekonomi terhadap jenis minyak yang dimiliki perusahaan minyak, dan swap contract. Menurut Edianto (2008), penilaian harga MOPS berdasarkan transaksi yang terjadi di sistem window Platts. Di mana seller dan buyer memasukkan volume untuk jenis minyak yang sesuai spesifikasi Platts dan harga bid/offer.

Menurut Kementerian Keuangan (2009), saat ini di Indonesia terdapat 50 jenis minyak mentah yang masing-masing memiliki harga sendiri-sendiri. 50 jenis minyak mentah tersebut terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

  1. Delapan (8) jenis minyak mentah utama, antara lain : SLC, Cinta, Widuri, Duri, Attaka, Belida, Arjuna, dan Senipah Condensate. Harganya berdasarkan formula ICP yang mengacu pada publikasi APPI, RIM dan Platts.
  2. Satu (1) jenis minyak mentah Bontang Return Condensate/BRC, dan harganya dihitung berdasarkan publikasi MOPS Naphta.
  3. Empat puluh satu (41) jenis minyak mentah lainnya harganya dihitung berdasarkan formula yang mengacu pada 8 jenis ICP tersebut di atas pada huruf a.

Berdasarkan kandungan sulphurnya, minyak mentah Indonesia sebagian besar berada di bawah 0,5% yang berarti bahwa minyak mentah Indonesia tergolong ke dalam sweet crude. Berdasarkan klasifikasi 0API atau berat jenisnya, kebanyakan minyak mentah Indonesia masuk ke dalam kelas medium/light crudes. Dari 8 minyak mentah utama Indonesia (Arjuna, Attaka, Belida, SLC, Cinta, Widuri, Duri dan Senipah) dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu condensate (minyak Senipah),  light crude (minyak Arjuna, Attaka, Belida), medium crude (minyak SLC, Cinta, Widuri), dan heavy sweet (minyak Duri).

Selanjutnya akan dibahas Harga Minyak Mentah Indonesia/ Indonesian Crude Oil Price (ICP) (Bagian 2)

*)Penulis :

Sopana, S.Si, M.Si (Han)

Penulis merupakan lulusan:

S2 : Jurusan Ketahanan Energi, Fakultas Manajemen Pertahanan, Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN).

S1 : Jurusan Matematika (Konsentrasi Statistika), FMIPA, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Jateng

Penulis dapat dihubungi di : opansopana[at]gmail.com